Selasa, 03 November 2015

BAHAN ALAMI PENGGANTI ANTIBIOTIK


1. Bawang Merah
Image
Bawang merah mengandung belerang yang dipercaya banyak orang mengandung antibakteri dan zat diuretik. Sirup atau obat yang terbuat dari bawang merah berkhasiat sebagai ekspekstoran yang membantu mengeluarkan lendir dari bronkus, paru-paru, dan trakea. Selain itu sirup atau obat yang terbuat dari bawang merah berkhasiat untuk melawan radang dan memperlancar aliran darah.
Image
2. Bawang Putih
Sudah sejak dahulu bawang putih dipercaya sebagai antibiotik alami karena mampu melawan flu dan demam. Kandungan allicin yang ada di dalam bawang putih memiliki rasa dan bau yang kuat, serta mempunyai zat theurapeutic yang bisa digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan terapi penyembuhan penyakit.  Menurut hasil penelitian, bawang putih mampu menurunkan kadar kolesterol dan menurunkan tekanan darah. Bahkan berdasarkan hasil penelitian belum lama ini, bawang putih terbukti lebih efektif untuk mengobati keracunan makanan dibandingkan dengan obat-obatan modern.
Image
3. Teh Hijau
Memang benar teh hijau bukan antibiotik yang kuat, namun berdasarkan hasil penelitian teh hijau mampu membantu kinerja antibiotik. Teh hijau mengandung aktioksidan yang tinggi dan sangat bermanfaat bagi tubuh. Teh hijau mengandung kafein yang rendah dan mampu membuat bakteri lemah terhadap antibiotik.
Image
4. Madu
Madu bermanfaat untuk infeksi dan luka, terutama jika menggunakan madu Manuka. Madu ini berasal dari lebah yang secara eksklusif diberikan tanaman manuka di Australia dan Selandia Baru. Madu Manuka ini terkenal mengandung antibiotik. Enzim antimikroba yang terkandung dalam madu ini akan mengeluarkan hidrogen peroksida yang mampu menghalangi pertumbuhan bakteri pada infeksi bakteri internal dan eksternal, seperti radang perut. Dengan setetes saja madu Manuka, infeksi akan teratasi.
Image
5. Echinacea
Tumbuhan ini bila dalam bentuk ekstrak mampu melawan berbagai bakteri, gigitan serangga, dan juga virus. Selain itu, echinacea juga bermanfaat untuk merangsang sistem kekebalan tubuh agar sel darah putih lebih kuat dan efektif dalam melawan infeksi. Berdasarkan hasil penelitian, dengan mengkonsumsi suplemen Echinacea secara rutin, daya tahan tubuh anda lebih kuat dan tidak mudah terkena penyakit, seperti pilek. Namun tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi supplemen ini secara terus menerus karena efektivitasnya akan berkurang. Disarankan mengkonsumsinya hanya selama beberapa pekan saja, terutama saat anda sakit dan daya tahan tubuh sedang menurun.
Image
6. Minyak Oregano
Dikenal sebagai rajanya antibiotik alami di beberapa studi dan penelitian. Seperti dikutip dari Care2, minyak oregano ini memiliki manfaat antibiotik yang sangat kuat dibandingkan bahan lainnya.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Paul Belaiche, minyak oregano mampu membunuh 96% bakteri pneumococcus, 92% bakteri neisseria, bakteri proteus dan bakteri staphylococcus. Bakteri strein dan neisseria ini sering ditemukan pada penyakit gonorrhea dan meningitis. Sedangkan bakteri proteus ditemukan pada infeksi usus, dan bakteri staphylococcus seringkali ditemukan pada makanan yang beracun.
Dikatakan juga, minyak oregano ini mampu berperan sebagai antibiotik yang mempercepat penyembuhan sakit tenggorokan, demam, reumatik, infeksi luar, dan anorexia.
Image
7. Ekstrak Daun Zaitun
Daun Zaitun dikenal juga sebagai alternatif antibiotik lain, yang sangat ampuh menangani virus. Drs O dan B. Lee dari Department of Biomedical Science di CHA University Korea menemukan bahwa daun zaitun ini berpotensi besar melawan serangan virus dan mikroba serta radikal bebas.
Image
8. Propolis
Propolis adalah zat yang digunakan oleh lebah madu untuk dua fungsi penting di sekitar sarang. Bayangkan sebuah ‘komunitas’ dengan 35000 anggota, masing-masing dari mereka memiliki ruang kecil, merangkak di atas ruang tetangga sebelah dan berbagi makanan dan pasokan yang sama. Dan yang menakjubkan lingkungan sarang dalam kondisi sangat bersih dan mampu mencegah perkembangan dan penyebaran bakteri. Kenapa demikian? Ya, apalagi kalau bukan karena peran sanitasi propolis.
Zat ajaib ini dikumpulkan dari kulit pohon dan aliran getah yang memiliki sifat anti bakteri dan virus. Sifat ini kemudian dikombinasikan dengan sekresi lebah hingga membentuk propolis, yang kemudian digunakan di seluruh sarang sebagai pembersih alami. Sebuah contoh kegunaannya adalah dalam perannya dalam memumifikasi bangkai tikus liar dan serangga yang mengembara ke sarang dan tidak dapat melarikan diri. Makhluk-makhluk mati dan bangkai akan mengundang virus hingga menjadi ancaman bagi seluruh koloni. Jadi lebah yang cerdik membungkus seluruh bangkai dengan propolis lebah, efeknya interaksi bakteri dan virus menjadi nol.
Peran lain yang tak kalah pentingnya adalah adalah fungsinya sebagai bahan penambal retak pada sarang. Banyak orang membayangkan sarang lebah menjadi struktur yang sama sekali tertutup, padahal pada kenyataannya tidak begitu. Sangat penting bagi para penghuni untuk memiliki ventilasi. Lilin lebah digunakan untuk menambal lubang yang terlalu besar dan retak dan propolis diterapkan sekitar lubang yang lebih kecil, tetapi meninggalkan lubang yang cukup untuk mengalirkan udara.
Sekarang kita sudah tahu manfaatnya bagi sarang lebah. Lalu, sekarang apa manfaat propolis untuk kesehatan?
Salah satu hal dalam kedokteran yang menimbulkan banyak perhatian adalah resep antibiotik. Siapa pun yang mengalami demam, sakit gigi atau sakit perut pasti diresepkan obat antibiotik. Yang menjadi masalah adalah bahwa tubuh kita mulai membangun resistensi terhadap antibiotik yang kita pakai. Setiap kali Anda menggunakannya, ia akan menjadi sedikit kurang efektif karena tubuh anda menyesuaikan diri dengan kehadirannya. Hal ini penting, karena ketika Anda benar-benar perlu antibiotik untuk memerangi infeksi yang lebih serius, mungkin saat itu sudah tidak cukup efektif lagi. Namun, tubuh mampu membedakan antara antibiotik buatan dan alami, ketika melihat zat ini masuk ke sistem tubuh. Sebuah antibiotik alami dapat bekerja secara harmonis dengan sistem tubuh kita sedangkan yang kimia, yang dirancang untuk melakukan hal yang sama, dapat menyebabkan penolakan, atau ketidakstabilan karena kekebalan terhadapnya. Propolis adalah antibiotik alami. Ada kemungkinan bahwa propolis dapat digunakan untuk menggantikan bahan kimia dalam banyak situasi, atau digunakan bersama mereka untuk memberikan penghalang lebih alami dan efektif terhadapa invasi bakteri.
Kita bisa melihat efektifitas Propolis lebih mudah bila digunakan secara terbuka. Banyak orang menggunakannya untuk mengobati luka dan lecet dan luka bahkan kanker dan bisul mulut.
Image
9. Kayu manis dan Jus Apel
Para peneliti mendapati bahwa kayu manis yang ditambahkan ke jus apel yang tidak dipasteurisasi membunuh 99,5 persen bakteri dalam tiga hari, menurut The Independent dari London. Pada kesempatan lain, para ilmuwan itu menambahkan rempah-rempah ke daging sapi mentah dan sosis, lalu mendapati bahwa kayu manis, cengkeh, dan bawang putih paling efektif untuk membunuh E. coli O157. Para peneliti berpendapat bahwa rempah-rempah ini efektif melawan bakteri lainnya, termasuk salmonela dan campylobacter.
Image
10. Tertawa
Telah diketahui sejak dulu bahwa tertawa adalah obat yang manjur. Para ilmuwan di State University of New York memutuskan untuk mencari tahu mengapa demikian. Mereka menyingkapkan penemuan mereka bahwa tertawa turut memicu pelepasan hormon-hormon yang sangat kuat yang memberikan energi kepada sistem kekebalan manusia. Salah satu kelompok hormon, yang disebut sitokin, didapati meningkatkan kegiatan sel-sel darah putih yang dibutuhkan untuk mengusir virus dan bakteri penyebab infeksi dan yang menghancurkan bakal-bakal sel kanker. Ini hanyalah ”salah satu substansi yang kadarnya dipacu oleh tertawa,” demikian kata The Sunday Times dari London. Hubungan antara tertawa dan sitokin ini oleh beberapa peneliti dijuluki sebagai hormon-hormon bahagia. Oleh karena itu, surat kabar itu menyebut tertawa sebagai ”resep panjang umur”.
Image
11. Ranting Pohon Mimba
Jutaan orang India mematahkan ranting mimba setiap pagi, mengunyah ujungnya hingga lunak, kemudian menggunakannya untuk menggosok gigi dan gusi mereka. Penelitian telah membuktikan manfaat dari hal ini, karena senyawa-senyawa pada kulit kayu mimba adalah antiseptik yang kuat. Benih dan daun mimba mengandung senyawa yang memperlihatkan aktivitas antiseptik, antivirus, dan antifungi.
Image
12. Semut
Selama pertempuran pada tahun 1947, ahli bedah militer Cina Wu Zhicheng harus mengobati infeksi pada prajurit yang terluka, tetapi persediaan obat-obatannya menipis. Dalam keadaan hampir putus asa, ia menghubungi seorang dokter setempat, yang memberinya resep obat tradisional Cina—air direbus dengan semut untuk membersihkan luka dan obat yang dibuat dari jenis semut yang khusus. Menurut China Today, hasilnya sedemikian menakjubkan sehingga Dr. Wu memulai suatu karier panjang untuk meneliti penggunaan semut sebagai obat-obatan. Ia percaya bahwa obat-obatan dari semut membantu menyeimbangkan sistem kekebalan dan mengatakan, ”Semut adalah gudang nutrisi berukuran mini. Gudang itu berisi lebih dari 50 zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia, 28 asam amino dan berbagai mineral serta senyawa kimia.”
Image
13. Semut dan Kalajengking
Banyak orang, meski tidak semua, mendapati bahwa mengobati penyakit dengan memakan serangga merupakan hal yang menjijikkan. Namun, menurut majalah Asiaweek, gagasan itu bukanlah sesuatu yang baru. Di Singapura, Imperial Herbal Restaurant menghidangkan makanan dengan ramuan seperti semut dan kalajengking, keduanya dikenal bukan saja bergizi melainkan juga dapat menyembuhkan. Wanita pemilik restoran itu, Ny. Tee Eng Wang-Lee, mengatakan bahwa semut baik untuk mengobati rematik, sementara racun kalajengking konon untuk menenangkan saraf dan mengurangi sakit kepala migrain. Obat-obatan lain yang terbuat dari serangga termasuk larva yang dikeringkan untuk mengurangi rasa sakit; larva cicada untuk mengatasi perut kembung, luka pada mulut, dan campak; serta sarang langau kerbau yang dikeringkan untuk membunuh parasit. Bagaimana rasanya serangga ini? Semut mempunyai rasa yang menusuk seperti cuka, dan kalajengking rasanya kenyal. Ny. Wang-Lee mengatakan, ”Setelah mencobanya berkali-kali, Anda baru merasakan kenikmatannya.”
TERIMA KASIH sudah berkunjung,semoga bermanfaat

SEJARAH PENEMUAN ANTIBIOTIK

                               
Sejarah penemuan antibiotik pada tahun 1928 oleh Sir Alexander Fleming merupakan sebuahpenemuan terbesar dalam dunia medis. Karena adanya Antibiotik milliaran nyawa bisa diselamatkan. sebelum anti biotik ditemukan banyak jenis-jenis infeksi penyakit yang tidak bisa disembuhkan sehingga menyebabkan kematian.

Hasil gambar untuk ANTIBIOTIKAlexander fleming adalah seorang ilmuan ahli mikrobiologi dari inggris.Penemuan antibiotik dimulai ketika fleming melakukan penilitian pada bakteri Stephylococcus dan saat meninggalkan labotatorium nya fleming lupa membersihkan cawan petri yang mengandung bakteri tersebut. sehingga terkontaminasi oleh jamur Penicillium Chrysogenum. Saat kembali untuk melanjutkan penelitian flaming melihat perkembangan bakteri menjadi terhambat akibat kontaminasi jamur itu.

                                             PENEMUAN ANTIBIOTIK

Penelitian pun terus dilanjutkan untuk mengetahui senyawa yang terkandung pada jamur Penicillium Chrysogenum sehingga lahirlah antibiotik pertama yang disebut Penicillin..Ternyata setelah itu perjalanan flaming tidak mulus. Flaming mengalami kendala terhadap cara budidaya dan osolasi jamur tersebut. Sampai akhirnya Penelitiannya dihentikan.

Penelitian tentang penicillin kemudian dilanjutkan oleh Howard Florey danErnest Boris Chain dengan biaya dari pemerintah Amerika dan Inggris. Mereka berhasil memurnikan penicillin sehingga mampu digunakan untuk mengobati berbagai penyakit.

Selain itu Fleming juga menemukan bahwa penggunaan antibiotik dengan dosis yang terlalu rendah dan durasi penggunaan terlalu singkat bisa menyebabkan resistensi bakteri terhadap obat tersebut sehingga bakteri menjadi lebih kuat dan tidak mempannya antibiotik.
Karena jasa nya yang besar atas penemuannya tersebut, Alexander Fleming mendapatkan penghargaan Nobel Prize in Medicine pada tahun 1945 bersama Florey dan Chain.
Antibiotik-antibiotik jenis baru kemudian ditemukan setelah penemuan penicillin. Itulah sejarah penemuan antibiotik yang dapat menyelamatkan milliaran nyawa.

Senin, 02 November 2015

Bahaya Resistensi Antibiotika


Anak-anak & orang dewasa yang terinfeksi virus, dimana tidak bisa diobati dengan antibiotik, biasanya akan pulih dengan sendirinya apabila penyakitnya tersebut telah selesai. Demam, yang merupakan tipe infeksi oleh virus dapat berlangsung sampai 2 minggu. Apabila penyakit yang diderita terlihat makin memburuk atau berlangsung lebih lama dari perkiraan, maka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kembali. Obat-obatan yang dijual bebas dapat digunakan untuk membantu mengobati beberapa gejala yang dirasakan. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu meredakan gejala sakit yang dirasakan, apabila ternyata penyebabnya adalah infeksi virus & tidak bisa diobati dengan antibiotika :
·         Banyak istirahat
·         Banyak minum
·         Gunakan pelembap ruangan
·         Hindari asap rokok atau bahan polutan lainnya
·         Gunakan obat penurun panas seperti parasetamol atau ibuprofen untuk meredakan demam
·         Bila perlu gunakan obat-obat yang dijual bebas untuk meredakan gejala yang dirasakan seperti misalnya pelega pernafasan dll.
Meminum antibiotika untuk mengobati pilek atau penyakit yang disebabkan oleh virus, tidak hanya tidak bermanfaat tetapi juga dapat menimbulkan bahaya. Dalam jangka panjang hal ini dapat membuat bakteri menjadi lebih sulit untuk dimusnahkan. Penggunaan antibiotika yang sering & tidak sesuai keperluan dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan yang diberikan atau yang disebut dengan resistensi bakteri. Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis yang lebih tinggi atau antibiotika yang lebih kuat untuk dapat dimusnahkan.
Penggunaan antibiotika mendorong perkembangan bakteri yang resisten. Setiap seseorang menggunakan antibiotika, maka bakteri yang sensitif akan terbunuh tetapi bakteri yang resisten akan tetap ada, tumbuh & bereproduksi. Penyebab utama meningkatnya bakteri yang resisten adalah penggunaan antibiotika secara berulang & tidak sesuai range terapi. Kunci untuk mengontrol penyebaran bakteri yang resisten ini adalah penggunaan antibiotika secara tepat & sesuai range terapi (takaran, frekwensi dan lama penggunaan obat).
Kita dapat berperan secara aktif untuk menghambat terjadinya resistensi bakteri, caranya adalah dengan menggunakan obat antibiotika secara tepat & sesuai range terapi. Meskipun antibiotika merupakan obat yang sangat kuat, akan tetapi antibiotika hanya efektif untuk digunakan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri & bukan oleh mikroba lain seperti misalnya demam, batuk atau flu. Berikut beberapa tips yang bermanfaat apabila kita berobat ke dokter :
·         Tanyakan apakah antibiotika yang diberikan bermanfaat terhadap penyakit yang tengah diderita saat ini.
·         Jangan gunakan obat antibiotika untuk penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus seperti flu.
·         Apabila mendapatkan antibiotika, harus digunakan sampai habis. Jangan sisakan antibiotika tersebut untuk pengobatan di lain waktu.
·         Gunakan antibiotika yang diberikan sesuai saran dari dokter. Gunakan secara rutin sampai habis meskipun sudah merasa sehat. Jika pengobatan antibiotika dihentikan terlalu cepat, maka beberapa bakteri dapat bertahan hidup & menimbulkan infeksi kembali.
·         Jangan gunakan antibiotika yang di resepkan untuk orang lain. Terkadang karena merasa gejala penyakit yang dirasakan sama, maka kita menyamakan pengobatan dengan orang tersebut, padahal bisa jadi kebutuhan tiap orang berbeda.
·         Jika dokter menyimpulkan bahwa penyakit kita tidak memerlukan pengobatan antibiotika, tanyakan pengobatan lain yang dapat membantu meredakan gejala yang kita rasakan. Jangan paksa dokter untuk memberikan antibiotika kepada kita.
Hasil gambar untuk animasi bahaya antibiotik

Terimakasih sudah berkunjung :) semoga bermanfaat
Sumber: medicastore.com